My new blog is
AGAK MENGECEWAKAN – Mungkin itulah yang saya rasakan selesai menonton film Ayat-ayat Cinta. Mungkin awalnya ekspektasi saya terlalu tinggi terhadap film ini, sehingga ketika saya menonton, ada beberapa adegan yang membuat saya agak kecewa. Adegan antara Fahri-Aisha dan Fahri-Maria, ketika mereka telah menjadi suami istri, menurut saya agak berlebihan, karena memandang film ini adalah sebuah film agama, yang diangkat dari novel yang sangat religius dan fenomenal. Walaupun di dalam film mereka dinyatakan sebagai suami-istri, namun pada kenyataannya bukan, dan tetap tidak boleh bersentuhan secara fisik. Cukup seringnya adegan kontak fisik antara mereka, menurut saya tidak sesuai dengan pesan (baca:dakwah) yang dibawa oleh film ini, yaitu Islam tidak membenarkan adanya persentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim.
“wah, bagusan novel daripada filmnya…”. Saya sering mendengar ataupun membaca komentar seperti itu. Menurut saya, itu wajar-wajar saja. Kita tidak bisa mengharapkan suatu film yang diangkat dari novel menjadi sebagus, ataupun lebih bagus daripada novelnya sendiri. Rasanya agak tidak mungkin menuangkan isi novel yang beratus-ratus halaman ke dalam film yang hanya berdurasi 2 jam. Bahkan film berskala internasional seperti Harry Potter dan the Da Vinci Code pun tidak sebagus novelnya. Dalam sebuah novel, penulis bisa menuangkan dan merangkai kata-kata yang indah, bisa menuangkan berbagai ide dalam tulisannya dengan tidak terbatas, tentu saja berbeda dengan membuat sebuah film.
Tapi, walaupun filmnya agak mengecewakan saya (dan mungkin juga sebagian besar orang) yang telah membaca novel Ayat-ayat Cinta, namun tidaklah patut rasanya kita sebegitu mencela film ini. Bukankah kita orang Muslim, diajarkan untuk tidak mencela? Saya rasa film ini tidak sebegitu jeleknya hingga harus dicela habis-habisan seperti yang saya baca di beberapa blog. Walau bagaimanapun mereka yang membuat film ini telah berusaha keras untuk menghadirkan yang terbaik hasil karya mereka. Menurut saya film ini lumayan bagus kok (di samping adegan-adegan yang saya sebutkan di atas), meskipun dalam pandangan saya para pemainnya kadang tidak terlalu berhasil mewakili karakter yang ada di dalam novel. Namun, setting film yang walaupun di Indonesia, tetap berhasil menghadirkan suasana Mesir, dan juga ada banyak hal yang bisa saya ambil hikmahnya dari film ini. Saya merinding mendengar lantunan surat Ar Rahman, saya merinding dan terharu melihat Maria yang menjelaskan pemahamannya mengenai huruf Alif Lam Miim dalam Al Quran, menyiratkan betapa agungnya kitab suci agama Islam. Saya merenung begitu mendengar perkataan orang yang satu sel dengan Fahri di penjara, bahwa Islam itu adalah sabar dan ikhlas. Kembali lagi kepada kita, seberapa dalamkah hikmah yang dapat kita ambil dari sesuatu hal, termasuk film ini, seperti kata orang, jangan tanyakan hikmah apakah yang dapat diberikan oleh suatu hal kepada kita, akan tetapi semampu apakah kita dapat mengambil dan menggali hikmah dari hal tersebut.
Mungkin emang bagi saudara-saudara Muslim yang (merasa) sudah sangat mengerti agama, merasa bahwa film ini tidak ada apa-apanya, akan tetapi bisa saja, bagi mereka yang masih dangkal pengetahuan agamanya, yang terbiasa menonton film-film barat ataupun film Indonesia pada umumnya, film ini sangat berkesan. Saya melihat remaja (cewek) yang duduk di sebelah saya, menangis sepanjang menonton film ini (dari penampilannya saya menarik kesimpulan bahwa beliau termasuk remaja gaul). Dan dibandingkan dengan film Indonesia yang beredar akhir-akhir ini, yang (menurut saya) sangat tidak mendidik, dan bahkan cenderung tidak senonoh, film ini masih jauh lebih bagus.
Saya menghargai orang-orang yang telah bekerja keras dalam pembuatan film ini (yang katanya sangat tidak mudah). Dan pada akhirnya memang tidak ada malaikat di antara kita, tidak ada yang sempurna di antara kita. Semoga film ini sedikit banyak membawa pencerahan dalam perfilman Indonesia, semoga ke depannya dapat membuat film yang bahkan jauh lebih baik dari ini, yang jauh lebih mendidik daripada kebanyakan film-film yang ada sekarang. Baik film yang bertema general, maupun film agama. Amin.
Posted in Just Wanna Write | 1 Comment »